Tahun Ini, Papua Bakal Terapkan Sirkumsisi dengan Alat PrePex


male-circumcision

male-circumcision

JAYAPURA-Indonesia, tercatat sebagai Negara pertama di Asia setelah Negara-negara di kawasan Afrika yang bakal menjadi Negara pertama, khususnya di Provinsi Papua yang akan menerapkan sirkumsisi atau sunat dengan menggunakan alat PrePex.

Hal ini diungkapkan dr Muyenzi Leon Ngeruka, ahli bedah dari Rwanda, Afrika, ketika berbagi pengalaman pelaksanaan sirkumsisi dalam upaya penggulangan HIV-AIDS di Rwanda, yang berlangsung di Grand Abe Hotel, Minggu (11/5) malam.

Untuk mengawali rencana pelaksanaan penerapan sirkumsisi dengan menggunakan alat PrePex tersebut, dr Munyenzi Leon Ngeruka datang ke Manokwari dan Papua untuk melakukan sosialisasi dan bertemu dengan berbagai pihak, termasuk melakukan pengukuran penis.

“Saya datang ke Manokwari dengan perantara sponsor dan pemerintah, mengukur tentang penis sehingga alat yang akan dipakai ukurannya. Ukuran penis orang Papua hampir sama dengan orang-orang Rwanda,” kata dr. Leon.

Setelah selesai mengukur tersebut, dr. Leon mengaku akan kembali lagi ke Rwanda untuk menentukan ukuran-ukuran PrePex yang akan dipakai dan Sepetember 2014 akan datang lagi ke Papua.

Untuk itu, diperkirakan pada bulan Oktober 2014, kata dr Leon, nantinya akan ada orang yang dikirim dari Papua ke Rwanda untuk melakukan pelatihan-pelatihan untuk penggunaan PrePex tersebut.”Ya, pada tahun 2014 ini juga nanti akan diaplikasikan penggunaan alat PrePex itu di Papua,”ujarnya.

Sebelumnya, dr Leon sempat memaparkan pengalamannya dalam pelaksanaan sirkumsisi yang menggunakan peralatan PrePex tersebut, yang sebenarnya telah dilakukan selama 10 tahun dan mengalami perkembangan terbesar di dunia dalam 3 tahun terakhir ini.

Diakui, program sirkumsisi tersebut awalnya cukup sulit, karena negaranya tidak punya tradisi untuk menjalankan sunat atau sirkumsisi tersebut.

Namun, upaya terus dilakukan dengan bekerjasama dan melibatkan semua pihak, termasuk tokoh gereja, tokoh masyarakat, politisi dan lainnya, akhirnya diterima.
Program sirkumsisi ini, menurutnya, mampu mengurangi penyakit HIV-AIDS di Rwanda. Bahkan sekitar 60 persen penyunatan ini mampu mencegah terjadinya HIV dan sekitar 73 persen orang yang telah disunat bisa bertahan untuk menghadapi HIV dan mampu mengurangi resiko penyakit kelamin lainnya.

Disamping itu, sirkumsisi menggunaka PrePex, lebih mudah, lebih efisien, tidak perlu menggunakan suntik atau alat bius dan tidak sakit dan orang yang disirkumsisi bisa melakukan aktifitas serta biayanya sedikit lebih murah dan resikonya sangat kecil.

Sementara itu, Sekretaris KPA Papua, drh. Constant Karma menambahkan bahwa di Papua ada kesamaan dengan Rwanda, Afrika yakni daerah-daerah itu didiami oleh orang-orang berkulit hitam dan banyak orang Kristen.

Dalam pertemuan itu, jelas Constant Karma, sirkumsisi atau sunat ini, lebih banyak berbicara lebih pada untuk kesehatan reproduksi, sehingga pihaknya berkomitmen untuk sirkumsisi ini berbicara masalah kesehatan reproduksi untuk mencegah penyakit menular seksual.

Apalagi, jelas Constant Karma, KPA Papua lebih mengembangkan Sirkumsisi Medis Sukarela (SMS) Pria Untuk Kesehatan Reproduksi di Papua dapat mencegah atau mengurangi secara signifikan penularan virus Papiloma penyebab tumor kandungan, virus HIV (sampai 76 persen) penyebab AIDS, sifilis, Gonore (kencing nanah), non gonore, herpes, kanker penis, trichominiasi dan Clamidiasis.

“Jadi, sirkumsisi bisa berjalan sebagai strategis tambahan dalam program-program pencegahan HIV/AIDS yang sudah berjalan,” jelasnya.

Terkait dengan penggunaan PrePex untuk sirkumsisi, diakui pada tahun 2012, KPA Papua bersama stakeholder sempat nekat mengikuti konvensi internasional HIV-AIDS di Wasinthon DC Amerika Serikat.

“Kami punya buku kuning yang dibuat KPA dalam bahasa Inggris dan kami bawa 300 ekslempar ternyata laku sekali. Jadi, rupanya Negara-negara internasional melihat kami sebagai salah satu yang aktif di Asia untuk mulai merespon sirkumsisi dan PrePex, karena belum banyak dibicarakan di Asia, tapi kami KPA Papua nekad bicara karena melihat ada manfaatnya untuk kesehatan reproduksi,” paparnya.

Bahkan, lanjut Constant Karma, hal itu direspon oleh lembaga donor dan ahli bedah dari Rwanda, dr Leon datang ke Papua. “Beliau bilang bahwa bicara sirkumsisi dikaitkan dengan PrePex, mungkin kami yang pertama di luar Afrika,” katanya.

Ditanya kapan untuk langkah konkrit untuk sirkumsisi dengan menggunakan PrePex di Papua? Constant Karma menjelaskan bahwa kehadiran dr Leon itu merupakan langkah awal untuk pelaksanaan sirkumsisi dengan PrePex di Papua, karena dr Leon diutus oleh lembaga-lembaga donor untuk datang ke Papua.

“Lembaga donor yang punya PrePex yang mahal ini mau lihat dulu ke Papua, termasuk melakukan pengukuran penis, nanti akan diproses yang sudah melalui Menteri Kesehatan RI, karena kami sudah sampaikan proposalnya ke Menkes,” katanya.

Untuk itu, ujar Constant Karma, nantinya aka nada program pengiriman dokter dan perawat ke Rwanda Afrika untuk mengikuti pelatihan-pelatihan dan melihat implementasi sirkumsisi dan PrePex di sana, yang diperkirakan pada Oktober 2014, kemudian dikembangkan di Papua, sehingga pada tahun ini juga sudah bisa dilakukan dan diimplementasikan di Papua.

“Nanti akan ada share dana, lembaga donor akan siapkan PrePexnya, kita mungkin biaya pelatihan dan honor perawat yang akan diatur di sini,” katanya.

Tokoh Gereja dari Klasis GKI Jayapura, Pdt Lukas Rumbino menyambut baik rencana untuk penerapan sirkumsisi dan penggunaan alat PrePex tersebut.

“Kita sudah mewujudkan kemitraan ini, dalam upaya untuk pencegahan HIV-AIDS dan sosialisasi terhadap bahaya HIV tersebut,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya tentu akan melakukan sosialisasi kepada jemaat tentang sirkumsisi dan PrePex tersebut dalam upaya untuk menanggulangi HIV-AIDS. “Dengan presentase dr Leon dari Rwanda ini, kita lihat ada satu inovasi diperkenalkan kepada kita metode baru untuk sirkumsisi, saya pikir kita akan sosialisasi kepada masyarakat dan jemaat agar mereka dapat menerima ini,” imbuhnya.

Senada diungkapkan Ketua Pimpinan Muhammadyah Papua, Prof R Partino tentang program sirkumsisi dan penggunaan PrePex dalam upaya menyelamatkan generasi muda di Papua dari bahaya penyakit HI-AIDS.

“HIV-AIDS ini menjadi musuh utama bagi generasi muda ini, sehingga harus diselamatkan,” imbuhnya. (bat/nat)

Sumber: Cenderawasih Pos

Sumber gambar: http://www.sedibamedical.co.za/img/male-circumcision.jpg

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *