Jangan Tertipu Iklan Rokok!


Jangan Tertipu Iklan Rokok

 

Berbicara tentang rokok, pembahasan yang selalu dibahas biasanya mengenai dampak rokok bagi kesehatan. Namun sebenarnya rokok bukan hanya berdampak pada kesehatan saja, karena dampaknya juga bagi perekonomian negara, kemiskinan dan juga lapangan kerja.

Mungkin Anda mengira bahwa rokok memberikan pemasukan yang besar bagi negara? faktanya bahwa, sumbangan cukai rokok pada penerimaan negara hanya sekitar 6-7%, atau Indonesia adalah negara pengekspor tembakau? Berdasarkan data Ditjen pertanian 2005 menunjukkan bahwa nilai impor tembakau lebih besar dari nilai ekspornya dan Indonesia mengimpor tembakau dari banyak negara seperti Amerika, Cina, Singapura, dan lain-lain.

Ditengah banyaknya informasi yang salah tentang rokok, berikut ini merupakan kumpulan fakta-fakta tentang rokok.

 

Mitos : Merokok adalah hak individu yang tak boleh diganggu gugat
Fakta : Merokok adalah ketidakberdayaan melawan adiksi nikotin dan akibat pada kesehatannya.
Rasa tanggungjawab hendaknya membuat perokok tidak membawa segala risiko gangguan kesehatan akibat rokok pada anggota keluarga yang disayanginya.

Mitos : Iklan rokok tidak mencari perokok baru tapi agar perokok beralih ke produk baru
Fakta :

  • Bagi pecandu rokok, dengan atau tanpa iklan ia akan tetap mencari rokok karena tak dapat lepas dari cengkeraman rokok.
  • Jadi iklan rokok lebih ditujukan untuk mencari perokok baru, terutama anak dan remaja yang sekali terjerat akan lama jadi perokok.

 

Mitos : Industri rokok lebih berjasa terhadap pendapatan negara melalui cukai rokok.
Fakta : yang membayar cukai rokok adalah konsumen atau perokok, Bukan industri rokok.

 

Mitos : Peningkatan harga rokok akan menurunkan penerimaan negara dari cukai tembakau karena berkurangnya konsumsi
Fakta :

  • Penerimaan cukai tembakau naik 13 kali lipat selama 1994 – 2007 meskipun harga rokok naik banyak selama periode itu.
  • Studi Bank Dunia menunjukkan bahwa peningkatan cukai akan menaikkan penerimaan negara karena lambat dan penurunan konsumsi rokok (faktor adiktif). Peningkatan penerimaan cukai tembakau akibat naiknya harga jauh lebih tinggi dari turunnya penerimaan akibat penurunan konsumsi.

 

Mitos : Industri rokok memberi sumbangan besar pada penerimaan pemerintah
Fakta :

  • Sumbangan cukai rokok pada penerimaan negara hanya sekitar 6-7%. Bila cukai dinaikkan penerimaan akan naik karena rokok bersifat adiktif dan harganya inelastis.
  • Jika cukai rokok naik 10%, volume penjualan berkurang 0,9 – 3%,penerimaan cukai bertambah 29 – 50 triliun.

 

Mitos : Pengendalian tembakau akan menghilangkan lapangan kerja di pertanian tembakau dan industri rokok.
Fakta : Peringkat industri dan pertanian tembakau hanya berada di antara 66 sektor dan tidak di posisi 10 teratas.

 

Mitos : Pengendalian konsumsi rokok akan mematikan petani tembakau
Fakta :

  • Seperti industri rokok, pengendalian konsumsi rokok tak akan mematikan petani tembakau karena lahan pertanian bisa dialihkan untuk sumber daya alam lain.
  • Bila kebutuhan industri rokok akan tembakau berkurang yang terkena dampaknya adalah importir tembakau.

 

Mitos : Peningkatan harga rokok akan membebani penduduk miskin
Fakta :

  • Perilaku merokoklah yang membuat orang menjadi miskin karena kecanduan dan menjadi konsumen setia rokok.
  • Peningkatan harga rokok akan mengurangi konsumsi rokok pada orang miskin sehingga mereka akan memanfaatkan uang mereka untuk membeli kebutuhan hidup mereka.
  • Data Susenas 2006 : 12% pengeluaran keluarga miskin digunakan untuk rokok, sementara untuk daging, telur, dan susu hanya 3%.

 

Mitos : Indonesia adalah negara pengekspor tembakau
Fakta :

  • Indonesia mengimpor tembakau dari banyak Negara seperti Amerika, Cina, Singapura, dan lain-lain.
  • Data Ditjen pertanian 2005 menunjukkan bahwa nilai impor tembakau lebih besar dari nilai ekspornya. Akibatnya negara merugi 35 juta USD pertahun.

 

 

Willi Fragcana Putra

@Willi_Putra


 

Sumber: Pusat Promosi Kesehatan KEMENKES RI
foto: Flickr by ajgphd


About Willi Fragcana Putra

Willi Putra adalah seorang dokter muda. Di kepengurusan Papuan Youth Health 2014/2015 sebagai Kepala Divisi Program, selain di Papuan Youth Health Willi Juga aktif dalam kepegurusan tingkat nasional diantaranya sebagai Chief technology Officer (CTO) di The Journal of Indonesian Health Professional Student atau Berkala ilmiah mahasiswa kesehatan indonesia (BIMKES) dan juga sebagai Public Relations di Indonesian Youth Health Professionals' Society (IYHPS) sebuah wadah profesional muda kesehatan yang memberi perhatian terhadap kualitas kesehatan di Indonesia.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *