IPE Untuk Tingkat Kesehatan Papua Yang Lebih Baik


Interprofessional education (IPE)

Interprofessional education (IPE)

Tuntutan pelayanan kesehatan yang berkualitas semakin meningkat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan. Keith (2008) menyatakan kunci dari pelayanan kesehatan yang bermutu dengan biaya yang efisien adalah dengan meningkatkan kolaborasi yang efektif antar tenaga kesehatan. World Health Organization (WHO) (2010) menyebutkan, salah satu upaya untuk mewujudkan kolaborasi antar tenaga kesehatan adalah dengan memperkenalkan sejak dini praktik kolaborasi melalui proses pendidikan.

APA ITU IPE ?

Interprofessional education (IPE) adalah salah satu konsep pendidikan yang dicetuskan oleh WHO sebagai pendidikan yang terintegrasi untuk peningkatan kemampuan kolaborasi.

Centre for the Advancement of Interprofessional Education (CAIPE) (2002) menyebutkan, IPE terjadi ketika dua atau lebih profesi kesehatan belajar bersama, belajar dari profesi kesehatan lain, dan mempelajari peran masing-masing profesi kesehatan untuk meningkatkan kemampuan kolaborasi dan kualitas pelayanan kesehatan.

PERKEMBANGAN IPE DI INDONESIA

Penelitian IPE pada mahasiswa dan dosen pengajar di Indonesia sudah mulai dilakukan di institusi pendidikan tinggi formal yang menyelenggarakan program pendidikan lebih dari satu program. Sejak 2010 penelitian tentang persepsi dan kesiapan terhadap IPE pada mahasiswa dan dosen pengajar sudah dilakukan, yaitu oleh A’la, Fauziah di tahun 2010 dan Aryakhiyati di tahun 2011 tentang persepsi dan kesiapan terhadap IPE pada mahasiswa dan dosen pengajar Fakultas Kedokteran UGM menunjukkan hasil yang positif. Mayoritas mahasiswa tahap akademik menunjukkan kesiapan yang baik terhadap IPE (sebanyak 92,8%) dan sebanyak 86,8% mahasiswa memiliki persepsi yang baik terhadap IPE (A’la, 2010). Mahasiswa tahap profesi menunjukkan tingkat kesiapan yang baik terhadap IPE (sebanyak 87,97 %) dan sebanyak 83,46% menunjukkan mereka berada pada tingkat persepsi yang baik terhadap IPE. Mayoritas dosen pengajar FK UGM menunjukkan nilai kesiapan terhadap IPE pada kategori baik (79.45%). Kemudian di tahun 2011 Penelitian yang dilakukan oleh Sedyowinarso dkk., menunjukkan mahasiswa kesehatan Indonesia memiliki persepsi yang baik terhadap IPE sebanyak 73,62% dan sebanyak 79,90% mahasiswa memiliki kesiapan yang baik terhadap IPE.

PENDIDIKAN KESEHATAN DI PAPUA BUTUH IPE?

Kita tahu bersama bahwa jumlah tenaga kesehatan di Papua masih sangat minim, begitu juga dengan penyebarannya yang tidak merata sehingga masih banyak penduduk yang belum tersentuh pelayanan kesehatan di pedalaman-pedalaman Papua. Namun, ini bukan satu-satunya tantangan tenaga kesehatan yang ada di Papua, ini hanya bagian kecil karena masih ada tantangan-tantangan lain yang lebih kompleks.

WHO di dalam Framework of Action on Interprofessional Education and Collaborative menyatakan bahwa banyak sistem kesehatan di negara-negara di dunia yang begitu terfragmentasi pada akhirnya tidak mampu mencapai kebutuhan kesehatan di negara itu sendiri. Hal ini kemudian disadari karena permasalahan kesehatan sebenarnya menyangkut banyak aspek dalam kehidupan, dan untuk dapat memecahkan satu persatu permasalahan tersebut atau untuk meningkatkan kualitas kesehatan itu sendiri, tidak bisa dilakukan hanya dengan sistem uniprofesional. Kontribusi berbagai disiplin ilmu ternyata memberi dampak positif dalam penyelesaian berbagai masalah kesehatan.

IPE adalah salah satu upaya pendekatan untuk menemukan solusi untuk menghadapi tantangan dan permasalahan kesehatan yang terjadi di Papua. Bekal tentang kolaborasi dapat diterapkan sejak tahap pendidikan melalui IPE. Mahasiswa akan terlatih untuk ambil bagian di dalam sebuah tim, bagaimana bisa berkontribusi, mendengar pendapat, dan berdiskusi demi tujuan, bukan hanya dengan mahasiswa jurusan yang sama tetapi juga dengan mahasiswa program kesehatan lain. Pembelajaran IPE yang berjalan baik diharapkan dapat menghasilkan profesional di bidang kesehatan yang mampu berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain, sehingga dapat berperan serta dalam pembangunan kesehatan dan peningkatan dalam sistem layanan kesehatan secara signifikan di Indonesia dan secara khusus di tanah Papua.

MANFAAT IPE UNTUK DUNIA KESEHATAN

Melalui riset collaborative practice dapat meningkatkan:

  • Akses kepada serta koordinasi layanan kesehatan
  • Penggunaan sumber daya klinis spesifik yang sesuai
  • Outcome kesehatan bagi pasien penyakit kronis
  • Pelayanan serta keselamatan pasien

Di samping itu, collaborative practice dapat menurunkan:

  • Total komplikasi yang dialami pasien
  • Jangka waktu rawat inap
  • Ketegangan dan konflik di antara pemberi layanan (caregivers)
  • Staff turnover
  • Biaya rumah sakit
  • Rata-rata clinical error
  • Rata-rata jumlah kematian pasien

KESIMPULAN

Dengan semakin berkembangnya dunia dimana globalisasi yang terjadi, juga kebijakan sistem kesehatan nasional dan sistem pendidikan kesehatan yang berlaku, maka kedepan IPE juga akan diterapkan dalam sistem pendidikan kesehatan di Papua. Pembelajaran IPE yang berjalan baik diharapkan dapat menghasilkan profesional dibidang kesehatan yang mampu berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain sehingga dapat berperan serta dalam pembangunan kesehatan yang sesuai dan tepat di tanah Papua.

 

Willi Fragcana Putra

@Willi_Putra


REFERENSI :

Barr, H. (1998). Competent to collaborate: towards a competency-based model for

interprofessional education. Journal of Interprofessional Care, 12(2):181-186

Buring et al. (2009). Interprofessional Education: Definitions, Student Competencies, and Guidelines for Implementations. American Journal of Pharmaceutical Education, 73 (4)

(CAIPE). 2002. Available: http://caipe.org.uk/about-us/the-definition-and-principles-ofinterprofessional-education [Accesed: June 30 2014]

Sedyowinarso, M et al. 2011. Persepsi dan kesiapan mahasiswa dan dosen profesi kesehatan terhadap model pembelajaran pendidikan interprofesi. Proyek HPEQ-DIKTI.

World Health Organization. The Framework of Action on Interprofessional Education and Collaborative practice. Geneva: World Health Organization;2010


About Willi Fragcana Putra

Willi Putra adalah seorang dokter muda. Di kepengurusan Papuan Youth Health 2014/2015 sebagai Kepala Divisi Program, selain di Papuan Youth Health Willi Juga aktif dalam kepegurusan tingkat nasional diantaranya sebagai Chief technology Officer (CTO) di The Journal of Indonesian Health Professional Student atau Berkala ilmiah mahasiswa kesehatan indonesia (BIMKES) dan juga sebagai Public Relations di Indonesian Youth Health Professionals' Society (IYHPS) sebuah wadah profesional muda kesehatan yang memberi perhatian terhadap kualitas kesehatan di Indonesia.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *